Belum lama ini presiden kita Joko
Widodo menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, tepatnya pada hari
senin (17/11/14), di Istana Merdeka, Jakarta. Terhitung mulai pukul 00.00
tanggal 18 Nopember 2014 harga BBM bersubsidi mengalami kenaikan sebesar Rp
2.000, premium yang semula Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar yang awalnya Rp
5.500 menjadi Rp 7.500.
Pemerintah memberi alasan subsidi
selama ini tidak tepat sasaran karena hanya dinikmati oleh kalangan menengah
keatas saja, dana untuk subsidi BBM akan diarahkan ke sektor yang lebih
produktif, dan kenaikan harga BBM adalah demi kesejahteraan rakyat.
Namun sampai saat ini, kebijakan
presiden menaikkan harga BBM masih menuai pro kontra, baik dikalangan masyarakat
maupun kalangan elit. Apakah benar kebijakan menaikan harga BBM demi
kepentingan rakyat? Apakah benar kebijakan menaikan harga BBM dapat
mensejahterakan rakyat?
Sangat disayangkan ketika harga minyak
dunia sedang turun, pemerintah malah menaikkan harga BBM bersubsidi. Lalu pemerintah
menuding subsidi BBM tidak tepat sasaran, padahal dampak dari kenaikan harga
BBM akan menimpa pada semua kalangan, terutama kalangan menengah kebawah.
Dengan naiknya harga BBM, kini
harga kebutuhan pokok dan transportasi menjadi naik sehingga membuat beban
hidup masyarakat bertambah. Menurut hasil survei LSI, 74,38 persen responden
menyatakan kehidupan sehari-hari mereka semakin sulit dipenuhi setelah harga
BBM naik dan 11.51 persen responden mengatakan kenaikan harga BBM tak berdampak
signifikan terhadap kehidupan harian mereka[1].
Mulai ramai kita lihat di media
saat ini yaitu program pemerintah memberi bantuan dana kompensasi kenaikan
harga BBM yang kini bernama Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). Penyaluran
dana tunai dilapangan ini menciptakan suatu masalah, banyak orang rela
mengantre untuk mendapatkan bantuan, padahal belum tentu orang tersebut layak
menerimanya. Lalu banyak terjadi kecelakaan saat mengantre, mulai dari
berdesak-desakan, saling injak, mungkin hingga bisa menimbulkan kematian. Miris
kalau kita tahu banyak dari mereka yang mengantre adalah orang yang sudah
lanjut usia. Masalah yang juga menjadi masalah klasik ialah banyak warga miskin
yang tidak mendapatkan dana kompensasi tersebut. Pemerintah menuding BBM bersubsidi
tidak tepat sasaran, lalu apakah program PSKS sudah tepat sasaran??
Sudah jelas terlihat bahwa
pemerintahan saat ini tidak pro rakyat. Berbicara atas kesejahteraan rakyat
namun seakan-akan mematikan kehidupan rakyat secara perlahan. Mari bangkit
melawan bersama untuk kesejahteraan rakyat....
Hidup Mahasiswa ...
Hidup Rakyat Indonesia ...
Lathif Fardiansyah
[1]http://nasional.kompas.com/read/2014/11/21/17194731/Survei.Harga.BBM.Naik.Masyarakat.Kesulitan.Penuhi.Kebutuhan.Hidup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar