Selasa, 02 Desember 2014

BBM Naik, Sejahterakah Rakyat Indonesia??



Belum lama ini presiden kita Joko Widodo menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, tepatnya pada hari senin (17/11/14), di Istana Merdeka, Jakarta. Terhitung mulai pukul 00.00 tanggal 18 Nopember 2014 harga BBM bersubsidi mengalami kenaikan sebesar Rp 2.000, premium yang semula Rp 6.500 menjadi Rp 8.500 dan solar yang awalnya Rp 5.500 menjadi Rp 7.500. 

Pemerintah memberi alasan subsidi selama ini tidak tepat sasaran karena hanya dinikmati oleh kalangan menengah keatas saja, dana untuk subsidi BBM akan diarahkan ke sektor yang lebih produktif, dan kenaikan harga BBM adalah demi kesejahteraan rakyat.

Namun sampai saat ini, kebijakan presiden menaikkan harga BBM masih menuai pro kontra, baik dikalangan masyarakat maupun kalangan elit. Apakah benar kebijakan menaikan harga BBM demi kepentingan rakyat? Apakah benar kebijakan menaikan harga BBM dapat mensejahterakan rakyat?

Sangat disayangkan ketika harga minyak dunia sedang turun, pemerintah malah menaikkan harga BBM bersubsidi. Lalu pemerintah menuding subsidi BBM tidak tepat sasaran, padahal dampak dari kenaikan harga BBM akan menimpa pada semua kalangan, terutama kalangan menengah kebawah. 

Dengan naiknya harga BBM, kini harga kebutuhan pokok dan transportasi menjadi naik sehingga membuat beban hidup masyarakat bertambah. Menurut hasil survei LSI, 74,38 persen responden menyatakan kehidupan sehari-hari mereka semakin sulit dipenuhi setelah harga BBM naik dan 11.51 persen responden mengatakan kenaikan harga BBM tak berdampak signifikan terhadap kehidupan harian mereka[1].

Mulai ramai kita lihat di media saat ini yaitu program pemerintah memberi bantuan dana kompensasi kenaikan harga BBM yang kini bernama Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). Penyaluran dana tunai dilapangan ini menciptakan suatu masalah, banyak orang rela mengantre untuk mendapatkan bantuan, padahal belum tentu orang tersebut layak menerimanya. Lalu banyak terjadi kecelakaan saat mengantre, mulai dari berdesak-desakan, saling injak, mungkin hingga bisa menimbulkan kematian. Miris kalau kita tahu banyak dari mereka yang mengantre adalah orang yang sudah lanjut usia. Masalah yang juga menjadi masalah klasik ialah banyak warga miskin yang tidak mendapatkan dana kompensasi tersebut. Pemerintah menuding BBM bersubsidi tidak tepat sasaran, lalu apakah program PSKS sudah tepat sasaran?? 

Sudah jelas terlihat bahwa pemerintahan saat ini tidak pro rakyat. Berbicara atas kesejahteraan rakyat namun seakan-akan mematikan kehidupan rakyat secara perlahan. Mari bangkit melawan bersama untuk kesejahteraan rakyat....

Hidup Mahasiswa ...

Hidup Rakyat Indonesia ...

Lathif Fardiansyah

[1]http://nasional.kompas.com/read/2014/11/21/17194731/Survei.Harga.BBM.Naik.Masyarakat.Kesulitan.Penuhi.Kebutuhan.Hidup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar